Ada
pepatah bilang tak kenal maka tak sayang. Maka dari itu kenalkan saya Dhea
Rijki Kusmawati. Sebenarnya saya hanya seorang
mahasiswa biasa dari jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Bandung yang gak
pinter-pinter banget dan kadang sifat malas nya suka datang tak tepat waktu. Selama
saya kuliah, saya tinggal disebuah kamar kecil berwarna merah muda bagian dari
sebuah asrama di daerah Cinunuk Kab. Bandung. Bicara soal jurusan saya yang
mengarah pada tulis menulis, public speaking dan penyiaran berdakwah dengan
menggunakan media baik itu tv radio ataupun sebuah film, saya rasa dan semoga
saya tak salah memilih jurusan ini.
Di
tulisan kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang tulis menulis. Sebuah
mata kuliah jurnal yang saya ambil di semester tiga ini membuat sedikit
kewalahan. Jurnalisme Dakwah nama mata kuliahnya. Dengan dosen bapak Uwes
Fatoni yang tegas dan konsisten. Beliau tak pernah absen memberi tugas setiap
minggunya walaupun tak bisa hadir di kelas tetap saja tugas akan selalu hadir.
Ada saja yang harus dikerjakan dan di kumpulkan minggu itu juga.
Mulai
dari menulis berita, menulis opini, meresensi buku sampai membuat essai saya
lakukan di mata kuliah ini. Pada awalnya saya merasa tertekan, capek dan
muak. Karena menurut saya, saya tak
punya passion dalam tulis menulis. Sampai akhirnya saya disadarkan oleh dua
tulisan opini saya yang bisa dimuat di Media Indonesia. Tulisan yang tertulis
dari seorang mahasiswa seperti saya bisa juga dimuat di MI. Mungkin bagi
sebagian orang itu hal biasa saja. Tapi saat itu senangnya bukan main.
Mata
kuliah Jurnalisme Dakwah telah mengubah pola pikir saya sedikit demi sedikit
soal menulis. Yang tadinya saya malas sekali jika diperintahkan untuk menulis,
kali ini saya malah berpikiran untuk bisa menulis sebuah buku dan mengaktifkan
lagi blog saya yang sempat menjadi sarang laba-laba karena lama tak saya
sentuh. Ada keharuan ketika mengingat Jurnalisme Dakwah dan juga Pak Uwes.
Dimana saya dulu mengorbankan weekend untuk liputan di masjid, menulis berita
juga opini sampai bergadang dan lain sebagainya. Tapi itu semua tak sia-sia
dilakukan. Saya jadi tahu repotnya seorang jurnalis, tahu bagaimana menulis berita
yang benar, tahu penggunaan kata ketika beropini, dan bahkan saya paham
bagaimana meresensi sebuah buku.
Di
semester tiga ini Jurnalisme Dakwah adalah mata kuliah yang paling banyak
menginspirasi saya walaupun sesekali saya merasa capek dan pusing ketika
mengerjakannya. Setelah lulus kuliah nanti saya ingin ada hasil karya tulis
saya yang bisa terwujud dan bermanfaat bagi orang lain. Saya ingin melakukan
bedah buku saya sendiri di beberapa kota di Indonesia. Selain Indonesia juga
saya inign sekali pergi ke Australia.
Sebuah desa kecil bernama Armidale dengan suasana yang tenang dan udara sejuk
yang selalu saja guru les bahasa Inggris saya ceritakan.
Berikut
adalah beberapa link dimana karya saya bisa dilihat oleh kalian semua :
Berita :
Opini :
- http://www.dakwahpos.com/2018/12/korupsi-butakan-masyarakat-jangan.html
- http://www.dakwahpos.com/2018/12/jangan-turup-kata-bijakmu-dengan-kata.html
- Jangan Salahkan Hujannya
Selain tulisan, saya
juga pernah membuat sebuah video dakwah yang saya rekam di masjid juga video
dakwah saya sendiri. Bisa dilihat di:
juga tak lupa jika kalian ingin sesekali
mengunjungi blog saya, kalian bisa kunjungi :
Suka duka menyelimuti perasaan
ketika mengingat mata kuliah ini yang akan segera berakhir. Semoga saya bisa
mengambil banyak pelajaran dari kerasnya perjuangan menyelesaikan tugas mata
kuliah ini dan semoga harapan yang saya tulis bisa terwujud atas ijin-Nya.
Bersyukur
kepada Allah SWT kemudian berterimakasih pada Bapak Uwes Fatoni yang telah
memberikan pelajaran adalah ucapan yang harus saya sampaikan. Karena tanpa ini
semua mungkin saya tak akan pernah mengerti arti sebuah tulisan. Tak lupa juga
doa kedua orang tua saya yang selalu dipanjatkan setiap malamnya, membuat saya
tak ingin mudah menyerah dalam memperbaiki hidup.
