Rabu, 12 Desember 2018

Jangan Tutup Kata Bijakmu dengan Kata Kritikmu



Kebebasan berpendapat memang sudah menjadi hal lumrah yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Namun, harus tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip demokrasi Pancasila agar segala bentuk proses penyampaian pendapat dapat dipertanggung jawabkan baik secara moral maupun hukum. Apalagi berbicara, berpendapat atau mengomentari suatu hal di media sosial. Karena media sosial merupakan media online dimana penggunanya bisa dengan mudah untuk berpartisipasi dan berbagi apapun (Free Speach).

Terkadang manusia tidak memikirkan terlebih dahulu dampak yang mungkin ditimbulkan dari pendapat yang dilontarkannya. Bisa saja pendapat yang dilontarkan justru akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian dan analisis yang mendalam untuk meminimalisir terjadinya konflik sebelum berpendapat.

Mulut sebagai media untuk mengartikulasikan segala bentuk sesuatu yang ada di dalam pikiran dan hati. Maka perkataan yang keluar dari mulut ini harus bisa kita kendalikan. Jika tidak, perkataan itu bisa menjadi “galak” seperti harimau yang siap menerkam balik kita. Pengendalian mulut agar bisa menyaring perkataan yang keluar mungkin saja tidak cukup dengan usaha sendiri melainkan dengan berdoa dan berdzikir. Karena doa adalah perlawanan yang paling tepat terhadap perkataan yang kotor dan jahat.

Tidak hanya berbicara atau berpendapat secara langsung yang bisa menjadi boomerang untuk kita jika kita tak bisa mengontrol perkataan yang keluar dari mulut. Ketikan jari jemari di media sosial juga perlu diperhatikan. Hukum yang berlaku di Indonesia bagi penggunaan media sosial adalah tindak pidana penghinaan atau pencemaran nama baik yang tercantum dalam undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (Pasal 27 ayat 3) merupakan delik aduan bukan lagi masuk dalam delik umum. Sehingga orang yang merasa dirugikan dapat langsung melaporkan diri. 

Sebenarnya masyarakat Indonesia ataupun nitizen Indoneaia sudah bisa menyampaikan pendapatnya dengan bijak namun kebanyakannya merupakan tipe manusia yang memiliki pemikiran kritis. Jadi kata-kata bijaknya sering tertutup dengan kata-kata kritik mereka sendiri.

Oleh : Dhea Rijki Kusmawati
Mahasiswa KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jln Soreang-Cipatik kp. Badaraksa no.29, No.Hp: 089656848520 , e-mail: dhearyzki@gmail.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar