Kamis, 20 Desember 2018

Portofolio Selama Mengikuti Mata Kuliah Jurnalisme Dakwah

Ada pepatah bilang tak kenal maka tak sayang. Maka dari itu kenalkan saya Dhea Rijki Kusmawati. Sebenarnya saya hanya seorang mahasiswa biasa dari jurusan Komunikasi Penyiaran Islam UIN Bandung yang gak pinter-pinter banget dan kadang sifat malas nya suka datang tak tepat waktu. Selama saya kuliah, saya tinggal disebuah kamar kecil berwarna merah muda bagian dari sebuah asrama di daerah Cinunuk Kab. Bandung. Bicara soal jurusan saya yang mengarah pada tulis menulis, public speaking dan penyiaran berdakwah dengan menggunakan media baik itu tv radio ataupun sebuah film, saya rasa dan semoga saya tak salah memilih jurusan ini. 
Di tulisan kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang tulis menulis. Sebuah mata kuliah jurnal yang saya ambil di semester tiga ini membuat sedikit kewalahan. Jurnalisme Dakwah nama mata kuliahnya. Dengan dosen bapak Uwes Fatoni yang tegas dan konsisten. Beliau tak pernah absen memberi tugas setiap minggunya walaupun tak bisa hadir di kelas tetap saja tugas akan selalu hadir. Ada saja yang harus dikerjakan dan di kumpulkan minggu itu juga.
Mulai dari menulis berita, menulis opini, meresensi buku sampai membuat essai saya lakukan di mata kuliah ini. Pada awalnya saya merasa tertekan, capek dan muak.  Karena menurut saya, saya tak punya passion dalam tulis menulis. Sampai akhirnya saya disadarkan oleh dua tulisan opini saya yang bisa dimuat di Media Indonesia. Tulisan yang tertulis dari seorang mahasiswa seperti saya bisa juga dimuat di MI. Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa saja. Tapi saat itu senangnya bukan main.
Mata kuliah Jurnalisme Dakwah telah mengubah pola pikir saya sedikit demi sedikit soal menulis. Yang tadinya saya malas sekali jika diperintahkan untuk menulis, kali ini saya malah berpikiran untuk bisa menulis sebuah buku dan mengaktifkan lagi blog saya yang sempat menjadi sarang laba-laba karena lama tak saya sentuh. Ada keharuan ketika mengingat Jurnalisme Dakwah dan juga Pak Uwes. Dimana saya dulu mengorbankan weekend untuk liputan di masjid, menulis berita juga opini sampai bergadang dan lain sebagainya. Tapi itu semua tak sia-sia dilakukan. Saya jadi tahu repotnya seorang jurnalis, tahu bagaimana menulis berita yang benar, tahu penggunaan kata ketika beropini, dan bahkan saya paham bagaimana meresensi sebuah buku.
Di semester tiga ini Jurnalisme Dakwah adalah mata kuliah yang paling banyak menginspirasi saya walaupun sesekali saya merasa capek dan pusing ketika mengerjakannya. Setelah lulus kuliah nanti saya ingin ada hasil karya tulis saya yang bisa terwujud dan bermanfaat bagi orang lain. Saya ingin melakukan bedah buku saya sendiri di beberapa kota di Indonesia. Selain Indonesia juga saya  inign sekali pergi ke Australia. Sebuah desa kecil bernama Armidale dengan suasana yang tenang dan udara sejuk yang selalu saja guru les bahasa Inggris saya ceritakan.
Berikut adalah beberapa link dimana karya saya bisa dilihat oleh kalian semua :
Selain tulisan, saya juga pernah membuat sebuah video dakwah yang saya rekam di masjid juga video dakwah saya sendiri. Bisa dilihat di:
juga tak lupa jika kalian ingin sesekali mengunjungi blog saya, kalian bisa kunjungi :
                Suka duka menyelimuti perasaan ketika mengingat mata kuliah ini yang akan segera berakhir. Semoga saya bisa mengambil banyak pelajaran dari kerasnya perjuangan menyelesaikan tugas mata kuliah ini dan semoga harapan yang saya tulis bisa terwujud atas ijin-Nya.
Bersyukur kepada Allah SWT kemudian berterimakasih pada Bapak Uwes Fatoni yang telah memberikan pelajaran adalah ucapan yang harus saya sampaikan. Karena tanpa ini semua mungkin saya tak akan pernah mengerti arti sebuah tulisan. Tak lupa juga doa kedua orang tua saya yang selalu dipanjatkan setiap malamnya, membuat saya tak ingin mudah menyerah dalam memperbaiki hidup.

Senin, 17 Desember 2018

Resensi Buku Ibn Khaldun


“Sebuah Teori Sosial yang Dilupakan”
Oleh : Dhea Rijki Kusmawati / KPI 3A 
 Identitas Buku
Judul Buku       : Ibn Khaldun (Biografi Intelektual dan Pemikiran Pelopor Sosiologi)
Penulis            : Syed Farid Alatas
Penerbit          : Mizan, Bandung
Cetakan           : Ke-I
Tahun              : 2017
Tebal               : 207 halaman
ISBN                 : 978-602-441-003-2
Harga              : Rp. 48.000,-




Saat ini masih belum ada buku praktis ringkasan biografi tentang Ibn Khaldun dengan segala pemaparan yang cukup jelas bagi orang awam. Tapi Syed Farid Alatas mewujudkannya. Dia membuat buku biografi intelektual dan pemikiran sang pelopor sosilogi ini dengan 207 halaman saja. Cukup efisien untuk ukuran membaca buku kesejarahan.

Buku ini adalah buku pertama yang isinya memaparkan juga menjelaskan bagaimana gagasan Ibn Khaldun tentang ilmu masyarakat manusia yang sekarang dikenal dengan ilmu sosiologi sebagai teori sosial dengan sangat ringkas. Juga bagaimana kita dapat  menjadikannya sebuah teori sosial yang bisa dimanfaatkan untuk situasi dan kondisi pada zaman sekarang.

Karena buku ini bisa mengajak kita mempelajari gagasan-gagasan Ibn Khaldun sebagai sebuah teori sosial dengan ringkas, maka jika kita tak sanggup membaca buku Muqqadimah ataupun terjemahannya dengan 1.230 halaman yang mungkin akan membuat kita mudah dijerat rasa bosan, Syed Farid Alatas memberi solusi dengan buku ini.

Kata lainnya, buku ini adalah sebuah pengantar gagasan Ibn Khaldun yang terangkum dalam kitab Muqqadimah. Isi dari buku ini pun mengarah pada fakta yang ada tentang kondisi sosialnya.

Gagasan teori Ibn Khaldun sebenarnya tidak hilang. Hanya saja pada kondisi aktual sekarang ini, teori yang dibuat Ibn Khaldun dibahas sebagai objek studi bukan sebagai teori sosial. Dan Syed Farid Alatas menyayangkan hal ini.

Penulis mendeskripsikan dengan  keberfokusannya  Ibn Khaldun  pada teori yang dibuatnya tentang kebangkitan dan keruntuhan sebuah dinasti (negara). Selain itu penulis juga menuliskan gagasan yang dikemukakan Ibn Khaldun seputar pendidikan, pengetahuan, dan keadaan masyarakat pada satu bab khusus. 

Menurut Ibn Khaldun salah satu ciri yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya terletak pada kemampuannya berfikir. Kemampuan berfikir menghasilkan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi. Manusia menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berada di ruang hampa. Akan tetapi, dalam konteks masyarakat dimana mereka berada. (hal 107)

Berdasarkan apa yang telah dibaca sang penulis  dia melihat bahwa peletak dasar Sosiologi Ibn Khaldun ini memperkenalkan konsep Ashabiyyah. Istilah ini diterjemahkan sebagai solidaritas kelompok, esprit de corps, atau loyalitas kelompok. Ibnu Khaldun mendefinisikan Ashabiyyah sebagai perasaan tentang kesamaan dan kesetiakawanan terhadap suatu kelompok yang dibangun berdasarkan ikatan darah. Selain terbentuk melalui ikatan atau hubungan darah (shilat al-rahim), Ashabiyyah juga bisa terbangun dengan hubungan patron-klien (wala’) serta aliansi (hilf). (hal 85)

Syed Farid Alatas menawarkan rancangan mendasar untuk membangun Sosiologi ke-Khaldunian. Yaitu, upaya serius untuk mengembangkan teori-teori Ibn Khaldun dengan mengaplikasikannya pada kasus-kasus historis dan empiris, serta mengintegrasikan ke dalam ilmu-ilmu sosial modern. (hal 156)

Hal ini dapat diwujudkannya dengan menjadikan pemikiran Ibn Khaldun sebagai salah satu perspektif teoritis pada ilmu-ilmu sosial, mengembangkan konsep-konsepnya, serta mengangkat topik-topik apa saja yang dibahas oleh Ibnu Khaldun dikaitkan dengan problematika masyarakat kekinian.

Pemikiran Ibnu Khaldun tentang konsep Ashabiyyah atau solidaritas dan loyalitas bangsa layaknya bisa dijadikan alat ukur dalam melihat situasi sosial Indonesia saat ini. Dengan semakin berkurangnya rasa persatuan dan kesatuan rakyat Indonesia akibat ketegangan dan konflik politik yang berkepanjangan dikhawatirkan akan terjadi lagi runtuhnya bangsa Indonesia .

Uraian dengan bahasa yang sederhana dan tak banyak kata yang sukar dipahami memudahkan pembaca untuk bisa mencerna tulisan dengan baik.  Penggunaan body note pada buku ini juga memantapkan kepercayaan pembaca tentang isi buku. Karena penulis pun mengacu pada kitab Muqqadimah yang telah ada.

Cerdas rupanya penulis memilih untuk menggunakan body note ketimbang foot note. Karena body note tidak memakan space atau ruang pada halaman. Juga tidak membuat pembaca harus melihat ke bawah halaman untuk melihatnya, cukup melanjutkan jalan menmbaca seperti biasa. 

Selain buku yang mudah dijumpai dan dijangkau, buku ini terbilang buku yang tepat untuk memulai mempelajari gagasan Ibn Khaldun sebelum membaca kitab atau terjemahan dari kitab Muqqadimahnya.



Rabu, 12 Desember 2018

Baterai handphone jadi alasan travelling-mu terhambat? Kalian bisa pakai tips ini untuk perjalanan yang menyenangkan



Travelling atau jalan-jalan adalah salah satu kegiatan yang tak boleh di lewatkan pada saat liburan. Biasanya hal terpenting dalam travelling adalah untuk mengabadikan beberapa momen juga untuk memberikan kabar ke beberapa orang rumah ataupun teman. Sayangnya banyak orang lupa untuk menghemat baterai handphone agar bisa digunakan seharian.

Bisa saja baterai handphone hanya akan bertahan sampai tengah hari saja. Dan ini tentunya akan menjadi penghambat untuk bisa mengabadikan momen indah kalian. Agar peristiwa seperti ini tidak terulang ada beberapa tips dan tricks untuk menghemat baterai

Ubah ke mode hemat daya. Di setiap handphone sebenarnya sudah disiapkan mode hemat daya yang bisa mengantisipasi beterai kalian. Coba deh ubah mode handphone kalian jadi mode hemat daya.

Terapkan Airplane Mode saat susah mendapatkan sinyal. Ketika tak bisa mendapatkan sinyal di handphone kalian maka baiknya pakai mode airplane. Karena proses pencarian sinyal itu dapat membuat baterai jadi cepat habis.

Tutup semua aplikasi jika sudah tak digunakan. Beberapa aplikasi yang tidak ditutup justru secara otomatis akan menggunakan daya baterai dan juga paket data. Pastikan aplikasi tertutup  untuk bisa membuat daya baterai dan paket data lebih hemat dan efisien. Karena homescreen yang bersih akan mengurangi beban konsumsi daya baterai jadi lebih awet.

Turunkan kecerahan cahaya layar handphone. Dengan tingginya tingkat kecerahan akan mempengaruhi daya baterai. Semakin tinggi tingkat kecerahan semakin banyak daya yang dikeluarkan baterai handphone. Jika memungkinkan aturlah juga waktu time out layar hingga waktu paling singkat seperti 15-30 detik.

Non-aktifkan GPS dan fitur perintah melalui suara. Penggunaan fitur GPS akan memakan daya baterai yang sangat banyak jika dibiarkan aktif tanpa difungsikan. Sama dengan fitur perintah suara seperti “Ok Google ...” akan memerlukan daya baterai yang tidak sedikit karena diperlukan sensor suara untuk merespon perintah yang diberikan dalam bentuk suara.

Kurangi selfie tak penting saat di perjalanan. Kamera sebenarnya membuat boros daya baterai. Jadi selfie tak penting yang banyak di lakukan para kaum hawa ini hendaknya di kurangi untuk menghemat  baterai supaya bisa mengabadikan momen terbaik saat travelling.

Jangan mati-nyalain handphone. Orang-orang beranggapan bahwa mati-nyalain handphone bisa membuat baterai jadi lebih hemat. Anggapan itu sebenarnya salah karena cara itulah yang membuat baterai semakin boros. Buruknya lagi, kebiasaan ini justru akan membuat operating system handphone jadi terganggu.

Hemat bateraimu untuk momen terbaik dari pada update di media sosial. Kebanyak orang akan greget saat ada tempat bagus untuk bisa bagi atau bahkan pamer di media sosial tapi justru dengan penggunaan media sosial yang sering akan membuat bateraimu melemah dan tak bisa memposting sesuatu yang lebih indah mungkin di perjalanan berikutnya.

Gunakanlah handphone sebaik-baiknya agar kalian tak meniggalkan momen yang seharusnya lebih penting di abadikan dan bagikan nantinya. Semoga perjalanan kalian menyenangkan.

 Oleh : Dhea Rijki Kusmawati, KPI 3A

Jangan Salahkan Hujannya



Saat ini musim hujan telah memasuki puncaknya. Hampir setiap hari terjadi hujan baik itu pagi, siang, sore bahkan malam hari. Tidak dipungkiri bahwa akan ada tempat-tempat yang berpotensi banjir dan longsor atau bahkan memang sudah terjadi banjir dan longsor. Semua itu terjadi karena ulah manusia sendiri bukan karena hujannya. 

Hujan sebenarnya adalah anugerah juga rahmat yang diberikan sang pencipta alam semesta. Maka dari itu janganlah kita mencela datangnya hujan. Nabi SAW telah menasihatkan kita agar jangan selalu menjadikan  makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang kita tidak sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu, angin, dan hujan. 

Membuang sampah ke sungai, melakukan penebangan liar, membuat pemukiman di bantaran kali, banyaknya pembangunan yang dapat menutup lahan resapan air adalah hal-hal yang sering manusia lakukan setiap hari dan mungkin tak memikirkan dampak apa yang akan terjadi bila ini dilakukan terus menerus. 

Maka mulai hari ini waspadalah terhadap apa yang akan terjadi. Tak ada yang tahu kapan dan dimana banjir dan longsor sekalipun akan terjadi juga tak ada yang tahu siapa saja yang akan menjadi korban dari peristiwa itu. Sesal tak akan mengubah semuanya. Jika tak mau sesuatu buruk terjadi pada kita dan bumi ini hendaklah kita merawatnya dengan sebaik mungkin. Dengan membiasakan diri membuang sampah pada tempatnya dan tidak membuat alam ini semakin memburuk. Jagalah alam ini maka alam akan jaga kita.

Oleh : Dhea Rijki Kusmawati
Mahasiswa KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jln Soreang-Cipatik Kp. Badaraksa No. 29  RT 01/15 Kutawaringin Kab. Bandung

Jangan Tutup Kata Bijakmu dengan Kata Kritikmu



Kebebasan berpendapat memang sudah menjadi hal lumrah yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Namun, harus tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip demokrasi Pancasila agar segala bentuk proses penyampaian pendapat dapat dipertanggung jawabkan baik secara moral maupun hukum. Apalagi berbicara, berpendapat atau mengomentari suatu hal di media sosial. Karena media sosial merupakan media online dimana penggunanya bisa dengan mudah untuk berpartisipasi dan berbagi apapun (Free Speach).

Terkadang manusia tidak memikirkan terlebih dahulu dampak yang mungkin ditimbulkan dari pendapat yang dilontarkannya. Bisa saja pendapat yang dilontarkan justru akan merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Oleh karena itu perlu dilakukan kajian dan analisis yang mendalam untuk meminimalisir terjadinya konflik sebelum berpendapat.

Mulut sebagai media untuk mengartikulasikan segala bentuk sesuatu yang ada di dalam pikiran dan hati. Maka perkataan yang keluar dari mulut ini harus bisa kita kendalikan. Jika tidak, perkataan itu bisa menjadi “galak” seperti harimau yang siap menerkam balik kita. Pengendalian mulut agar bisa menyaring perkataan yang keluar mungkin saja tidak cukup dengan usaha sendiri melainkan dengan berdoa dan berdzikir. Karena doa adalah perlawanan yang paling tepat terhadap perkataan yang kotor dan jahat.

Tidak hanya berbicara atau berpendapat secara langsung yang bisa menjadi boomerang untuk kita jika kita tak bisa mengontrol perkataan yang keluar dari mulut. Ketikan jari jemari di media sosial juga perlu diperhatikan. Hukum yang berlaku di Indonesia bagi penggunaan media sosial adalah tindak pidana penghinaan atau pencemaran nama baik yang tercantum dalam undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (Pasal 27 ayat 3) merupakan delik aduan bukan lagi masuk dalam delik umum. Sehingga orang yang merasa dirugikan dapat langsung melaporkan diri. 

Sebenarnya masyarakat Indonesia ataupun nitizen Indoneaia sudah bisa menyampaikan pendapatnya dengan bijak namun kebanyakannya merupakan tipe manusia yang memiliki pemikiran kritis. Jadi kata-kata bijaknya sering tertutup dengan kata-kata kritik mereka sendiri.

Oleh : Dhea Rijki Kusmawati
Mahasiswa KPI UIN Sunan Gunung Djati Bandung
Jln Soreang-Cipatik kp. Badaraksa no.29, No.Hp: 089656848520 , e-mail: dhearyzki@gmail.com